Wantaranews.com – Langkat – Di bawah atap seng Warung Yanti yang membara oleh terik Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, sebuah proyek negara sedang “ditunda” secara organik.
Kamis itu, di hari libur nasional, sekat antara bedil dan cangkul luruh di atas meja kayu yang legam dimakan usia.
Tiga prajurit berseragam loreng duduk merapat dengan warga Dusun I Desa Pasar Rawa. Tak ada laras panjang yang disandang, tak ada protokoler kaku.
Yang ada hanya gestur persuasif dan cangkir kopi. Di “ruang ketiga” inilah, Satgas TMMD ke-128 Kodim 0203/Langkat memilih menyelesaikan masalah: mulai dari urusan pematang sawah yang terancam alat berat, hingga edukasi digital.
“Bijaklah bermedsos dan jangan sembarangan men-share info yang belum jelas,” ujar Dan SSK TMMD, Letda Inf M Rezky, di sela obrolan.
Bagi Satgas, jalan beton yang sedang mereka bangun akan sia-sia jika masyarakatnya rapuh akibat termakan hoaks dan kecurigaan.
Pendekatan informal ini sengaja diambil untuk menghindari jebakan proyek top-down yang kerap berakhir menjadi “monumen mati” karena asing bagi warga lokal.
“Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan komunikasi,” kata Pasiter Kapten Inf Supriadi.
Sementara itu, Dansatgas TMMD Letkol Inf Medwin Sangkakala menegaskan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan barang gratis yang jatuh dari langit. “Ia adalah hasil dari perdebatan, kesepakatan kecil, dan saling percaya yang lahir dari meja warung kopi,” ujarnya.
Siang merambat, namun obrolan di Warung Yanti belum bubar. Di desa ini, semen dan pasir akhirnya menemukan perekat terbaiknya: kepercayaan masyarakat.
